Tribute to Kanwil DJKN Kalimantan Barat

Today is my last day working here at Kanwil DJKN Kalimantan Barat. It so much joys and often tears but i will remember here as good times.

Thank you for all who i have met in Pontianak. Thank you for the friendliness and the comfort you all give to me. Without it, i wont be able to enjoy my time here.

Thank you for the greeting when we met at the stairs, thank you to the security for the red light waves when i want to leave the office, thank you for Mbak Tiwi who always took my dirty cup 5 minutes before 5 PM.

You will always be in my memory, and someday i will tell my children how happy and proud i am to be the citizen of Pontianak and Kanwil DJKN Kalimantan Barat for 5 years.

This is not good bye, this is a “see you again” moment with a hope that someday we will meet again.

Warm hug for all of you.

——————-

Hari ini adalah hari terakhir saya bekerja di kantor ini, Kantor Wilayah DJKN Kalimantan Barat. Sungguh banyak kebahagiaan yang tercipta di sini, dan kadang juga air mata, tetapi saya akan mengingat waktu saya di sini sebagai masa-masa bahagia.

Terima kasih atas sapaan saat kita berpapasan di tangga, terima kasih Bapak Satpam yang menghentikan laju kendaraan dengan senter merahnya saat saya akan keluar dari gerbang kantor, terima kasih Mbak Tiwi yang selalu mengambil gelas kotor saya 5 menit sebelum jam 5 sore.

Kalian semua akan selalu dalam kenanganku, dan suatu hari nanti akan kuceritakan pada anak-anakku betapa saya bahagia dan bangga telah menjadi penduduk Pontianak dan Kanwil DJKN Kalimantan Barat selama 5 tahun.

Ini bukan salam perpisahan, tetapi salam sampai jumpa dengan harapan suatu saat kita akan bertemu lagi.

Peluk hangat untuk kalian semua.

The Birth Story of Nadya : The Childbirth and The Doula

Saya merasakan kesakitan yang membuat saya tidak bisa mengontrol diri. Walaupun tidak sampai berteriak-teriak, saya menangis tersedu-sedu. Ke manakah latihan pernafasan dan relaksasi saya?

Sebenarnya selama proses kontraksi mulai dini hari itu, saya sudah mempraktekkan teknik pernafasan perut sebagaimana ajaran bidan-bidan dari Klinik Bidan Kita. Dan it works, saya bisa mengontrol rasa sakit, saya masih bisa beraktifitas bahkan memandikan anak pertama saya.

But as i told you earlier, karena saya belum sarapan maka saya mengalami pusing seperti yang dirasakan saat hendak pingsan. Mulai saat itulah saya sudah tidak mampu mengontrol pernafasan sampai akhirnya saya menangis sejadi-jadinya.

Tetapi saat perjalanan ke Klinik Sri Panuntun, saya mulai bisa mengendalikan diri dan rasa sakit sudah mulai bisa dikontrol.

Sembari menantikan kedatangan doula, saya menyempatkan diri untuk menggerakkan badan, berjalan-jalan mengelilingi tempat tidur. Saat kontraksi datang, saya mengontrol pernafasan, memposisikan badan bersandar pada tempat tidur, dan menggoyang-goyangkan bagian belakang badan untuk mengurangi sakit pada pinggul. Tak lupa, suara jernih Bu Yesie saya putar di HP untuk membantu saya melakukan relaksasi.

Saat itulah doula saya datang. Beliau adalah mbak Lia, salah satu bidan di Klinik Bidan Kita. Pertama kali saya bertemu Mbak Lia saat kelas hypnobirthing terakhir. Mbak Lia mengajarkan saya tentang perineum massage, endorphin massage dan pijat oksitosin. Orangnya ramah, menerangkan dengan jelas dan pelan-pelan, dan menjawab pertanyaan saya dengan memuaskan. Karena suami tidak berada di dekat saya, maka saya meminta Mbak Lia memperagakan pijat-pijatan tersebut (khususnya perineum massage) apabila harus  dilakukan seorang diri.

Dalam hati, sebelum kedatangan Mbak Lia, saya sempat berharap dalam hati kecil saya semoga doula yang dikirimkan Bu Yesie adalah Mbak Lia, tetapi saya tidak berani meminta ke Bu Yesie sembari berharap biarlah Allah SWT yang menentukan siapa yang terbaik yang akan menemani saya.

Saat pertama kali Mbak Lia datang, beliau langsung memijat bagian punggung saya, tempat di mana saya merasa paling sakit. And her hands felt like heaven, nyaman sekali pijatannya.

Kemudian Mbak Lia meminta saya untuk beristirahat berbaring di atas tempat tidur. Kata Mbak Lia, ibu yang hendak melahirkan memang perlu banyak bergerak untuk memudahkan bayi turun ke panggul, tetapi istirahat juga penting agar sang ibu bisa bertahan dalam proses persalinan yang melelahkan itu.

Saya pun berbaring, berusaha tidur (walaupun sebenarnya tidak bisa) sembari mendengarkan relaksasi Bu Yesie di HP dan pijatan nyaman Mbak Lia di punggung. Saya sempat hampir tidur ketika Ibu Mertua dan Aisya masuk ke ruang bersalin dan menyemangati saya.

Satu jam berjalan tak terasa, hingga Mbak Lia menanyakan apakah saya siap untuk kembali bergerak memacu percepatan proses persalinan.

Saya pun turun dan mulai berjalan mengelilingi tempat tidur.

Belum juga tiga langkah saya lakukan, saya mulai merasakan sensasi yang lain. Saya sudah merasakan kehendak untuk BAB. Rasa sakit yang pernah saya rasakan saat melahirkan Aisya. Di mana saya ingin sekali mengejan tetapi tidak boleh mengejan.

Tak terasa saya mulai berteriak-teriak, “Mbak, saya mau eek!”. Mbak Lia berusaha menenangkan saya tetapi saya sudah tidak bisa ditenangkan. Sampai akhirnya bidan dari Klinik Bu Panuntun memasuki ruangan dan meminta saya berbaring di ranjang.

Pemeriksaan dalam mengungkapkan bahwa pembukaan saya sudah mencapai angka 9.

Wow… Cepat sekali pikir saya…

Tetapi saya belum boleh mengejan. Saat itulah saat paling berat dalam proses persalinan ini. Saya belum boleh mengejan padahal ingin sekali mengejan. Saya berbaring ke arah kiri. Mbak Lia meminta saya untuk mengontrol nafas perut saya, yang gagal saya lakukan. Mbak Lia pun menenangkan dengan mengatakan tak apa pakai nafas dada asal saya tetap bernafas. Fokus pada nafas dan lakukan nafas pelan-pelan.

Saya ingat saat persalinan Aisya, saat-saat seperti ini ada suami di samping saya. Tetapi alih-alih suami, saat ini saya ditunggui oleh orang yang tidak terlalu dekat dengan saya. Walaupun ada ibu saya di ruangan itu, saya meletakkan kepercayaan saya kepada Mbak Lia yang akan membantu saya melalui ini. Saat itu tangan Mbak Lia saya pegang erat sekali, seakan-akan saya meminta kekuatan dari beliau, seakan-akan dengan memegang erat tangannya waktu akan segera berlalu dan semua sakit ini akan segera hilang.

Saya kehilangan orientasi waktu, sampai bidan dari Klinik Bu Panuntun meminta saya untuk berbaring telentang untuk pemeriksaan dalam lagi, yang mana saat itu berpindah posisi terasa sangat-sangat menyakitkan.

Hasil pemeriksaan dalam menyimpulkan saya sudah boleh mengejan.

Bismillah, saya pun mengejan.

Dorongan pertama, belum ada apa-apa.

Setelah dorongan kedua, bidan dari Klinik meminta saya untuk kuat dan membuat dorongan ketiga yang panjang sekuat mungkin. Mbak Lia mengatakan bahwa ini akan segera berakhir dan tak lupa mengingatkan agar saya tetap membuka mata saat mengejan.

Dorongan ketiga saya lakukan sekuat tenaga, selama mungkin, dan Masya Allah, Alhamdulillah anak kedua saya akhirnya lahir dengan selamat.

Subhanallah.

Saya bisa merasakan saat anak saya keluar dari rahim saya, rasa pedas, perih, panas sebagaimana Mbak Ari pernah ungkapkan kepada saya.

Anak saya kemudian langsung dibaringkan di atas dada saya. Alhamdulillah, anak perempuan yang sempurna. Gendut dan berambut tebal, dengan tangan mungilnya yang menggigil kedinginan. Saya dekap ia sembari bidan-bidan melaksanakan apa yang perlu dilaksanakan di bawah sana. Btw, rasa sakitnya sangat terasa.

…to be continued…

The Birth Story of Nadya : The Childbirth and The Doula (I)

Karena tidak bisa melahirkan di Klinik Bidan Kita, maka saya merencanakan untuk melahirkan di Klinik Pratama seorang bidan di dekat rumah mertua saya (ceritanya di sini). Tetapi karena semangat Gentle Birth yang masih menggebu, maka saya membuka peluang untuk dapat menggunakan jasa pendamping persalinan dari Klinik Bidan Kita. Ternyata gayung bersambut. pada salah satu sesi kelas Hypnobirthing, bu Yesie menjawab rasa penasaran akan keberadaan doula (pendamping persalinan) di Indonesia dengan menegaskan bahwa bidan-bidan yang saat ini ada di bawah bimbingannya bisa menjadi doula. Alhamdulillah.

Bahkan beliau menawarkan apabila nanti saya akan menggunakan doula dari Bidan Kita, kira-kira bidan yang manakah yang saya pilih. Pada saat itu saya baru bertemu dengan mbak Erni dan mbak Ari, sedangkan satu bidan lagi yaitu mbak Lia belum pernah membantu saya di kelas Hypnobirthing maupun yoga. Saya pun menjawab, saya bersedia didampingi bidan mana saja.

Waktu seakan berjalan begitu cepat ketika kita senang, pun kadang-kadang terasa lambat saat kita menunggu sesuatu, seperti penantian akan waktu melahirkan ini. Seperti itulah yang saya rasakan, saya nyaman berasa di Jawa sehingga waktu terasa cepat, pun saya sangat menunggu waktu bertemu anak dalam kandungan saya yang membuat waktu seakan berjalan lambat.

9 Agustus 2015 adalah hari perkiraan lahir anak saya. Rasa deg-degan mulai menghinggapi hati saya jauh sebelum tanggal 9 Agustus itu terlewati, karena saya sangat berharap bahwa saya bisa melahirkan sebelum HPL itu. Harapan itu semakin memuncak manakala saya mulai merasakan Braxton Hicks sejak minggu ke-38. Tetapi Allah SWT berkehendak lain

Ketika tanggal 9 Agustus akhirnya datang, saya mulai mengalami flek, dan Braxton Hicks-nya masih terus berlangsung. Tanggal 10-11-12, flek masih terus keluar, tetapi yang datang hanyalah Braxton Hicks, belum ada kontraksi yang teratur.

Tanggal 13 datang, dan suami saya harus pergi ke luar kota berjuang untuk masa depan keluarga juga. Tanggal 13 malam, saya baru bisa tidur jam 1 malam karena Aisya anak pertama saya rewel. Tanggal 14 dini hari, saya terbangun karena ayah saya (ya, ayah dan ibu saya sudah datang sejak tanggal 10 Agustus-nya) sholat tahajud. Dan semenjak jam 3 itu saya mulai merasakan kontraksi yang teratur, durasi berkisar 30-50 detik, frekuensi 8 menit sekali. Saya mencoba untuk tidur tetapi tidak bisa.

Setelah sholat subuh, saya mulai memberitahukan keluarga perihal kontraksi saya, tetapi saya belum mau diajak ke Klinik Pratama Bidan Sri Panuntun tempat saya akan melahirkan.

Pukul 6 pagi, saya memandikan Aisya dengan merasakan kontraksi yang mulai sering.

Pukul 7.30, saya mulai merasakan break down. Karena saya belum sarapan, maka saya mulai gemetaran. Tangisan tak dapat saya tahan dan keluarga mulai panik. Mereka mulai mencari pinjaman mobil untuk mengantar saya ke klinik pratama.

Jam 8 pagi, dan saya bahkan tidak sanggup berjalan. Mobil datang, tetangga-tetangga mulai ke rumah untuk membantu pemindahan saya ke mobil. Tetapi saya menolak bantuan gendongan mereka karena bagian belakang (p*nt*t) saya sakit sekali. Akhirnya saya berjalan ke mobil dengan memeluk ibu mertua saya. Ayah saya telah siap di dalam mobil di belakang sopir, dan saya berbaring di pahanya. Ibu saya duduk di sebelah sopir membawa keperluan kelahiran saya.

Jam 8 lebih sedikit saya tiba di klinik. Saat itu rasa sakit mulai berkurang, dan saya bisa berjalan ke dalam klinik dengan berpegangan tangan pada ibu dan bapak.

Jam 8.30, bidan melakukan pemeriksaan dalam dan memberitahukan bahwa saya mulai mengalami pembukaan 1. Masih lama, pikir saya.

Di ruangan bersalin, saya meminta bidan untuk pindah saja ke ruangan rawat tetapi tidak diperbolehkan mereka. Saya diberi teh dan kue yang langsung saya habiskan. Lapar. Ibu membukakan saya ketan untuk sarapan, yang langsung saya habiskan.

Jam 9.30, doula saya baru saja datang. Memang klinik saya agak jauh dari klinik Bidan Kita ditambah lagi waktu bagi doula saya untuk mencari-cari klinik bu Panuntun di lokasi yang ia tidak kenal.

Surprise, saya mendapatkan doula persis seperti apa yang saya minta dalam hati saya.

(to be continued)

The Birth Story of Nadya : Bangunan Ungu di Pinggir Sawah

Keinginan terpendam saya untuk melahirkan di Klinik Bidan Kita sepertinya tidak akan tercapai, karena Klinik Bidan Kita sedang meng-upgrade izinnya menjadi Klinik Pratama maka pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan tidak dapat dilakukan di sana. Tetapi semangat melahirkan dengan lembut belum pupus. Gentle Birth adalah filosofi yang bisa dilakukan dimana saja asalkan ada kemauan. Berbekal quote tersebut maka saya mulai mencari pilihan lain untuk tempat melahirkan.

Pada sesi curhatan di kelas hypnobirthing, saya mengutarakan beberapa pilihan tempat melahirkan kepada bu bidan Yesie. Pilihan pertama saya saat itu adalah bidan praktek swasta. Di sekitar rumah mertua saya ada dua bidan yang terbilang cukup dekat (tempat prakteknya). Ada bidan desa yang pastinya satu desa dengan kami, dan ada Klinik Pratama Sri Panuntun (Bidan) dengan jarak 5 menit berkendara.

Untuk pilihan rumah sakit, saya memilih antara PKU Muhammadiyah Delanggu atau RSIA Aisyiah Klaten. Bukan sembarangan saya memilih dua rumah sakit tersebut. Pilihan awal pasti yang bisa menerima pasien BPJS, kemudian disaring lagi dengan rekomendasi teman-teman yang memang berdomisili atau asli Klaten.

Saat saya mengutarakan pilihan saya ke bu bidan Yesie, beliau segera memberi komentar positif untuk Klinik Bidan Sri Panuntun. Menurut beliau, bu bidan Sri Panuntun orangnya baik dan terbuka dengan pilihan akan gentle birth. Secara pribadi, bu Yesie juga kenal dengan bu Panuntun. Sedangkan untuk rumah sakit, bu Yesie memberi komentar positif untuk dokter Usman Arifin di RSIA Aisyiah Klaten. Mungkin bukan dokter terbaik menurut pilihan bu Yesie tapi diantara pilihan yang saya utarakan maka dokter Usman mungkin yang sebaiknya dipilih.

Berbekal hasil rekomendasi bu Yesie, saya mengunjungi Klinik Bidan Sri Panuntun. Jauuuhhhhhhh sebelum ini, pada saat mudik lebaran tahun-tahun sebelumnya saya sudah tertarik dengan bangunan Klinik Pratama Bidan Sri Panuntun ini. Bertempat di pinggir jalan utama dari kampung mertua saya ke pusat keramaian terdekat (Kecamatan Pedan), setiap kali saya mau ke indomaret atau ATM pasti akan melewati bangunan itu. Bangunan bercat ungu muda bergradasi dengan ungu tua yang berbatasan langsung dengan sawah di sekelilingnya. Bagi penyuka warna ungu, maka bangunan itu pasti menarik perhatian saya. Dahulu, tak pernah terpikir bahwa saya akan melahirkan di tempat itu, seperti tak pernah ada di bayangan saya bahwa saya akan melahirkan di Klaten. But here i am now, mencoba membuka peluang lahiran di sini.

Klinik tersebut buka 24 jam dengan dijaga oleh dua orang bidan pada setiap waktu, dengan jadwal praktek oleh dokter kandungan dua kali seminggu tiap malam hari dan jadwal praktek dokter umum tiga hari sepekan mulai jam lima sore. Tetapi, yang saya inginkan adalah bertemu pemilik klinik ini, bu Panuntun sendiri, dimana pertemuan dengan beliau susah dilakukan karena tidak setiap saat beliau ada di tempat itu. Bu Panuntun adalan PNS pada Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten. Pun kalaupun bukan waktu kerja PNS, beliau masih susah ditemukan karena beliau juga mengajar di sebuah sekolah kesehatan di Klaten.

Akhirnya setelah komunikasi yang aktif dengan bidan jaga klinik tersebut, pada suatu malam saya berkesempatan bertemu bu Panuntun. Saat memeriksa saya beliau bahkan masih mengenakan seragam PNS PEMDA yang coklat itu. Di luar bayangan saya, bu Panuntun ternyata masih cukup muda, mungkin rentang usianya antara 35-40 tahun. Dengan jilbab yang lebar dan senyum yang tak kalah lebar dan tulus, saya mulai merasa nyaman dengan ibu ini.

Pada kesempatan pertama itu kami berkenalan dan saya mengemukakan kondisi saya. Bu Panuntun menjawab dan memberi penjelasan kepada saya layaknya penyuluh kesehatan di desa-desa itu (hehehe…) Penjelasan yang agak mendasar sebenarnya, hal-hal yang saya ketahui, tetapi saya tetap menghormati dan menerima penjelasan itu. Ditambah lagi beliau menjelaskan kondisi-kondisi yang harus dipenuhi bila ingin melahirkan di klinik ini, seperti kondisi kehamilan yang harus normal tanpa komplikasi, termasuk juga uji tes Hepatitis dan Hb darah yang normal. Yang ini yang saya belum tahu. Beliau juga memberikan semacam buku KMS untuk kehamilan saya ini, yang tidak saya dapatkan saat kehamilan Aisya dulu.

Pertemuan pertama yang berkesan.

Ditambah lagi, kami bisa menggunakan kartu BPJS di klinik ini! Hal ini berawal mula dari saat kedatangan awal saya di Klaten dimana saya mengajak suami untuk memindahkan BPJS saya dan Aisya ke Klaten, bilamana saya harus SC dan terpaksa menggunakan BPJS maka tidak akan ada masalah. Pilihan dokter umum BPJS di dekat rumah kami ada 2 pilihan. Pilihan pertama (dokter yang lumayan terkenal) sudah penuh sehingga kami memilih dokter yang kedua yaitu dr. Dwi Candra. Ndilalah, kersane Allah, Klinik bu Panuntun menjalin kerjasama dengan dokter pilihan BPJS kami, dimana apabila dokter Dwi memiliki pasien melahirkan akan dirujuk dulu ke klinik bu Panuntun. Pun sebaliknya apabila ada pasien BPJS dengan faskes I dokter Dwi yang berniat melahirkan di klinik bu Panuntun maka bisa diuruskan BPJSnya alias dapat diskon biaya melahirkan. Alhamdulillah ya Allah.

Sebelum melahirkan, saya sempat berujar kepada suami saya, sepertinya Allah SWT menggerakkan kami kepada bu Panuntun karena Allah SWT menghendaki saya melahirkan di klinik beliau. Mengapa saya memilih Klaten sebagai tempat kelahiran anak kedua kami, mengapa pada saat yang bersamaan Klinik bidan Kita sedang tidak menerima pasien, dan mengapa bu Yesie langsung memberi komentar positif saat saya mengemukakan tentang klinik bu Panuntun ini, serta mengapa kami memilih dokter BPJS yang bekerjasama dengan klinik bu Panuntun.

Saat itu saya dan suami berdoa semoga semua berlangsung lancar dan saya benar-benar bisa melahirkan di tempat bu Panuntun. Bismillah dan Alhamdulillah akhirnya doa kami dikabulkan Allah.

The Birth Story of Nadya : Finally, Gentle Birth Client (II)

Melanjutkan kisah saya sebelumnya, walaupun ada kemungkinan besar bahwa saya tidak bisa melahirkan di Klinik Bidan Kita, tetapi saya tidak menyerah. Saya memutuskan untuk mengikuti kelas hypnobirthing bersama bidan Yesie. Dalam proses kehamilan yang normal maka seorang ibu hamil minimal mengikuti tiga kali sesi kelas hypnobirthing. Di Klinik Bidan Kita, satu kali sesi kelas hypnobirthing berdurasi kurang lebih dua jam dengan biaya dua ratus ribu rupiah.

Kelas Hypnobirthing yang saya ikuti adalah private class dimana ibu hamil dan partnernya (bisa suami atau orang terdekat lain yang akan membantu ibu hamil pada proses kehamilan dan persalinan) bertemu enam mata (bawa si kakak juga boleh) membicarakan dari hati ke hati mengenai filosofi Gentle Birth, keadaan pribadi ibu hamil dan keluarga serta hambatan-hambatan dalam proses kehamilan dan persalinan. Menurut saya, kelas hypnobirthing yang dibuat private untuk masing-masing pasien ini sungguh tepat sekali, karena masing-masing kehamilan memiliki perjalanan unik sendiri-sendiri sehingga proses setiap kehamilan pasti berbeda. Dengan private class semacam ini maka Bu Bidan Yesie dapat menyesuaikan materi sesuai dengan keunikan masing-masing peserta kelas.

Walaupun nantinya bu bidan Yesie akan menerangkan filosofi Gentle Birth, sebaiknya para peserta sudah menyiapkan diri dengan membaca-baca mengenai pengetahuan umum tentang proses kehamilan dan persalinan dan pengetahuan khusus mengenai Gentle Birth.

Setiap sesi kelas hypnobirthing tidak hanya berisi sesi curhatan dengan ibu Yesie saja. Sebelumnya peserta akan diberikan pelatihan pemberdayaan diri yaitu melatih pernafasan, pijat oksitosin, pijat endorfin dan perineum massage. Sebenarnya latihan pernafasan maupun perineum massage sudah dijabarkan di buku-buku Bu Yesie tetapi mengikuti latihan di kelas hypnobirthing ini terasa berbeda, pelatihannya lebih practical daripada membaca buku.

Latihan pernafasan menggunakan media sebaskom es. Peserta diminta untuk melatih pernafasan dengan tangan dimasukkan ke dalam sebaskom es selama minimal 10 menit. Kelihatannya mudah tetapi awal-awal terasa sulit sekali. Rasa tangan yang dimasukkan dalam es yang dingin serasa seperti ditusuk-tusuk. Tetapi itulah tantangannya. Perasaan sakit itu diibaratkan rasa nyeri pada saat proses persalinan, dan kita diminta untuk dapat mengendalikan rasa sakit dengan menggunakan pernafasan perut. Harapannya, setiap kali pertemuan maka lama durasi ketahanan kita melatih pernafasan ini akan semakin panjang. Dan jangan lupa baskom es ini penting, melatih pernafasan dengan dan tanpa baskom es sungguh berbeda. Karena dengan tangan dimasukkan ke dalam baskom es maka pengaturan nafas menjadi lebih sulit.

Tentang pijat oksitosin, pijat endorfin dan perineum massage, entah mengapa pengajaran di kelas hypnobirthing ini lebih mudah dipahami daripada penjabaran di buku. Sebaiknya pengajaran tentang pijat-pijat ini direkam untuk nanti bisa kita lihat-lihat lagi kalau lupa.

Overall, saya sangat puas dengan kelas hypnobirthing ini karena saya mendapat ilmu baru yang tidak saya dapatkan di buku maupun internet. Dan Bu Yesie membantu saya mengatasi masalah-masalah pribadi sehubungan dengan kehamilan kali ini.

The Birth Story of Nadya : Finally, Gentle Birth Client (1)

Sejak kehamilan Aisya, anak pertama saya pada tahun 2013, saya sudah mengenal Gentle Birth, sebuah filosofi mengenai proses kehamilan dan persalinan yang menitikberatkan pada pemberdayaan diri ibu hamil, suami, serta tenaga kesehatan yang menangani. Dulunya saya mempelajari filosofi ini secara otodidak melalui buku dan internet saja. Saya puas dengan hasil yang saya dapatkan dari mempelajari filosofi Gentle Birth (pada proses kehamilan dan persalinan anak pertama) karena saya merasakan kelancaran saat kehamilan, kemudahan saat persalinan, dan bayi yang tenang dan jarang rewel, selain karena kehendak Allah SWT tentu saja.

Mengingat keuntungan yang telah saya rasakan pada saat kehamilan dan persalinan anak pertama, saya ingin mengulangi lagi kesuksesan itu. Sejak awal kehamilan, saya mulai membaca-baca lagi buku-buku dan artikel mengenai Gentle Birth, tak lupa saya juga mulai memberdayakan diri agar dapat mencapai persalinan yang saya kehendaki.

Pada kehamilan usia 3 bulan, saya berkesempatan pulang ke rumah keluarga suami di Klaten. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, saya pun mengunjungi Klinik Bidan Kita yang berjarak setengah jam perjalanan dari rumah. Pada pertemuan pertama tersebut, saya dan suami hanya menjalani sesi curhatan saja dengan Bu Bidan Yessie Aprilia (pemilik Klinik Bidan Kita dan Fasilitator Gentle Birth) tanpa pemeriksaan medis karena dua minggu sebelumnya saya sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan di Pontianak. Tak lupa saya pun membeli buku-buku baru yang ditulis Bidan Yessie, yang tentu saja isinya sehubungan dengan Gentle Birth.

Kesan pertama dengan Bu Yessie adalah orang yang murah senyum, pendengar yang baik, tenang, dan kukunya selalu dipotong pendek (lho, kok kuku?). Iya, kuku. Menurut saya, seorang bidan memang haruslah berkuku pendek, agar saat dia membantu persalinan pasien, kukunya tidak melukai pasiennya. Walaupun saat memberi pertolongan dia akan memakai sarung tangan tetapi bukankah lebih baik kalau kukunya pendek.

Selanjutnya saya kembali lagi ke Klinik Bidan Kita saat usia kandungan saya 34-35 minggu, yaitu saat saya sudah mengambil cuti bersalin dan pulang lagi ke Klaten. Saat itu hari Minggu dan jadwalnya prenatal yoga di Klinik Bidan Kita. Prenatal Yoga saat itu dipandu oleh Mbak Erni, salah satu bidan di Klinik Bidan Kita. Dan hebatnya lagi, kelas prenatal yoga kala itu adalah private class, karena hanya saya peserta yang datang sehingga kelas prenatal yoga tersebut menjadi kelas khusus buat saya. Alhamdulillah, Allah sayang dengan saya. Saya yang belum pernah menghadiri yoga class sebelumnya (pernah melakukan yoga tapi via video, dan itu pun prenatal yoga bukannya yoga umum) diberi kesempatan untuk belajar yoga secara dasar (walaupun terbatas) di kelas tersebut. Mbak Erni dengan sabar memberi arahan saya untuk melakukan gerakan yoga untuk trimester terakhir yang ternyata berbeda dengan prenatal yoga milik Lara Dutta yang saya download dari youtube itu. Gerakan prenatal yoga pada trimester terakhir lebih kepada menguatkan dan melatih daya tahan otot-otot yang diperlukan saat proses kelahiran nanti, seperti otot kaki, tangan, dan pinggang.

Setelah kelas prenatal yoga itu berakhir, saya mengobrol dengan Mbak Erni, Mbak Ari, dan Mbak Niken mengenai kemungkinan saya bisa menjalani pemeriksaan medis dengan Bu Yessie. Dan jawabannya cukup mematahkan hati saya. Karena Klinik Bidan Kita sedang dalam proses upgrading izin menjadi Klinik Pratama, maka Klinik Bidan Kita saat itu tidak melayani proses persalinan dan pemeriksaan medis. Klinik hanya melayani prenatal yoga dan kelas hypnobirthing.

Walaupun ada perasaan kecewa, saya tetap optimis dengan persalinan saya dan memutuskan untuk mulai mencari plan B kelahiran nanti sembari mengikuti kelas hypnobirthing di Klinik Bidan Kita.

Bersambung…

Tentang Nama Aisya

Di tengah kalutnya pikiran membaca peraturan kepegawaian dan pikiran yang mulai melayang-layang mencari-cari calon nama adik bayi dalam kandungan, izinkan saya sejenak saja menulis tentang sejarah nama anak pertama kami, yaitu si cantik nan sholehah Aisya Azzahra Athiyyarrahman.

IMG-20141004-WA0001

Walaupun saya dan suami sudah mengetahui perkiraan jenis kelamin anak pertama kami sejak bulan kelima, dan mulai mengumpulkan nama sejak bulan ketujuh (hunting nama untuk bayi laki-laki dan perempuan) Aisya baru memiliki nama resmi sampai dua minggu setelah kelahirannya. Dari sejak lahir sampai akhirnya nama Aisya kami tentukan, kami memanggilnya dengan nama adik bayi. Dan setiap orang menanyakan namanya siapa, kami jawab dengan “belum ada nama”.

Bukannya ada alasan tertentu mengapa cukup lama bagi kami untuk menentukan nama Aisya, tetapi dari sisi saya pribadi, perubahan status menjadi ibu dan segala pernak-pernik yang menyertainya cukup menyita pikiran saya dan mengalihkan fokus dari penentuan nama Aisya. Selain keinginan kami untuk berhati-hati memberikan nama bagi anak kami.

Beberapa kriteria yang saat itu saya yakini dalam pemberian anak antara lain :

  1. Memakai bahasa Jawa maupun bahasa Arab sama saja, asalkan bukan nama yang menyiratkan kepercayaan agama lain. Bagi saya, pemberian nama menurut asal suku saya yaitu Jawa bukan pantangan, karena toh saya orang Jawa.
  2. Nama yang disandangnya nanti akan tetap menjadi kebanggaan sampai dia dewasa. Jangan sampai namanya terlalu kekanak-kanakan sehingga tidak cocok dipakai oleh orang yang sudah dewasa.
  3. Namanya harus memiliki arti yang baik dan menjadi doa bagi anak.
  4. Untuk nama berbahasa Arab, harus dikonsultasikan dulu dengan ahli bahasa Arab agar memiliki penulisan yang benar dan maknanya sesuai dengan maksud orang tua.

Sejak sebelum kelahiran anak pertama saya, saya sudah memilih nama Aisya untuk namanya kelak, Aisya tanpa H. Awalnya memang saya terinspirasi oleh nama istri Nabi SAW, yaitu ‘Aisyah Binti Abu Bakar. Saya ingin anak saya nantinya memiliki sifat sholehah dan pintarnya istri tersayang Nabi SAW. Dan saya ingin sekali anak saya menjadi ahli syurga seperti ‘Aisyah Binti Abu Bakar.

Kemudian nama itu sempat berubah menjadi Aisha, sebelum akhirnya ditolak suami karena terlalu kebarat-baratan. Dan mendaratlah pada keputusan bahwa anak kami akan bernama Aisya tanpa huruf H yang berarti kehidupan.  Kehidupan yang dititipkan Allah SWT untuk kami jaga.

Nama kedua Azzahra merupakan pilihan ayahnya, yang merasa mendapat firasat atau bisikan saat membaca Al Quran. Nama ini berarti berkilauan, seperti julukan yang diberikan kepada Fatimah Binti Rasulullah. Nama ini juga bisa berarti cerdas, cocok untuk sifat yang ingin kami lihat pada putri kami nan sholehah.

Nama ketiga yang paling panjang dan susah penulisannya, Athiyyarrahman. Berawal saat suami saya membaca Al Quran (lagi) dan membaca ayat tentang karunia Allah. Karunia atau pemberian, bahasa Arabnya “Athiyya”. Sedangkan “Arrahman” merujuk kepada salah satu nama Allah SWT yang berarti Maha Pengasih. Nama ini menyiratkan puji syukur kami yang tak terhingga akan rahmat yang Allah berikan kepada kami, yaitu keturunan baik yang telah lama kami nantikan. Selama empat tahun masa pernikahan kami menunggu-nunggu kehadiran buah hati yang akhirnya Allah SWT rahmatkan kepada kami pada tahun keempat bulan keempat pernikahan kami.

Penulisan ketiga nama di atas telah disetujui oleh seorang kenalan kakak saya yang ahli bahasa Arab, itulah mengapa mungkin namanya sangat susah dituliskan, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya agar tulisan tadi sesuai dengan tata cara penulisan bahasa Arab yang benar dan maknanya sesuai dengan yang kami harapkan.